News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Kini "uang" kita mengapung bebas

Kini "uang" kita mengapung bebas

Pada bulan Februari 1965 Charles de Gaulee,presiden Prancis,meminta kembali emas mereka dengan  menukarkan 150 juta dolar AS. Tindakan ini diikuti beberapa pemimpin negara lainnya,termasuk Spanyol.

Sepanjang tahun 1959-1971 Amerika kehilangan hingga 50% cadangan emasnya,dan dolar AS telah dicetak 12 kali lipat melebihi emas yang seharusnya mem-back up- nya.

Akhirnya ,pada tanggal 15 Agustus 1971,secara sepihak Amerika Serikat menyatakan bahwa dolar AS tidak bisa lagi ditukar dengan emas. Pernyataan yang disampaikan oleh Presiden Richard Nixon dalam sebuah siaran televisi ini otomatis mengakhiri mata uang dengan standar emas.

Mulai saat ini hingga sekarang semua mata uang di dunia tanpa terkecuali menjadi sekedar mata uang fiat. Nilainya mengambang ,tak tentu arah. Pengertian fiat itu sendiri adalah " persetujuan". Jadi ,mata uang fiat adalah mata uang yang terbentuk hanya karena persetujuan pemerintah yang mencetaknya saja,tanpa memiliki nilai intrinsik yang setimpal. Maka tak heran jika daya belinya terus menyusut.

Beda dengan uang sejati: emas,perak tanpa dicetak pun nilainya tetap ada,dan orang tetap menyukainya.diinjak,diceraiberaikan,dicemplungkan ke dalam got dan atau bahkan dibakar sekalipun emas dan perak tetap bernilai.qbandingkan dengan mata uang fiat ! Andai selembar Rp.100.000 disobek dua/dibakar, masihkah disebut uang dan bisa dibelikan sesuatu?


Baca :


Jika dia diibaratkan dengan manusia," mata uang" itu hanyalah mata seseorang,sedangkan "uang" nya adalah orang tersebut secara utuh dari ujung kaki hingga ujung rambut. Mata uang apalagi yang  berstatus fiat tidak lah bisa disamakan dengan uang itu sendiri.

Kembali ke dolar. istimewanya ,dolar AS tetap dijadikan cadangan devisa bank sentral setiap negara,dan tetap menjadi alat pembayaran internasional,seperti halnya untuk pembelian minyak bumi.

Bank sentral dapat mencetak mata uang kertas sekehendaknya,tanpa harus memberikan dukungan komoditas apa pun. Hubungan antara mata uang pun tak jelas lagi.

Dengan rupiah indonesia misalnya. Tahun 1971,nilai 1 dolar AS setara Rp,420. Menjelang krisis moneter tahun 1997 nilai tukarnya menjadi Rp.2.500 per 1 USD.pada gahun 2019 1 dolar AS sudah menyentuh angka Rp.14.000dan terus berfluktuasi.

Para Bankir dapat semakin leluasa mengendalikan nilai tukar mata uang suatu negara,seperti yang pernah dilakukan George Soros salah satu perpanjangan tangan para  bankir terhadap Asia,termasuk Indonesia yang menyebabkan krisis moneter 1997/1998.

Baca juga :




Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.