News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

MEMBEBASKAN ATAU MENAKLUKKAN

MEMBEBASKAN ATAU MENAKLUKKAN

Tugas orang-orang besar tiada lain adalah membebaskan. Bedanya hanya setipis kulit bawang dengan menaklukkan. Membebaskan berarti memberikan nilai paling berharga pada manusia: kemerdekaan. Sedangkan menaklukkan, ini hanya mungkin berasal dari motif orang yang berkekurangan, yang buahnya nanti adalah meminta kekuasaan dan kepemilikan.

Penaklukan Romawi telah menghasilkan imperium pajak dan tirani. Sedangkan ekspansi Utsmani adalah perluasan tatanan dan pembebasan. Meskipun sama-sama dimulai dengan melakukan kampanye militer, dampak politik setelahnya ibarat langit dan bumi. Tentu versi-versi sejarah akan menulis secara berbeda mengenai keadaan ini. Kita hanya menerima sampah glorifikasi, konstruksi, dan doktrinasi dalam pelajaran sejarah yang tidak sungguh-sungguh diberikan di sekolah-sekolah yang berlomba menjadikan murid-muridnya sebagai kurcaci industri pada masa ini.

Kekuasaan "yang memberi" dan "yang meminta" merupakan dua motif dan sifat yang sangat berbeda. Bagaimana cara yang mudah untuk mengidentifikasinya?

Sekelompok teoritis telah mengatakan bahwa gerombolan perompak adalah cikal bakal sebuah negara. Sebagian lain mengatakan, kebutuhan atas perlindungan dan keteraturanlah yang menjadi pendorong lahirnya negara. Keduanya bisa jadi sama-sama benar. Motifnya saja yang berbeda.

Sebuah suku kecil, atau perkumpulan klan, hidup bersama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Lalu disusunlah pembagian kerja, hak dan tanggung jawab. Sistem perlindungan suku dirancang untuk melahirkan kekesatriaan. Hubungan kekerabatan diatur sedemikian rupa hingga menyentuh kepentingan-kepentingan politik dan diplomatik antar suku, dan melahirkan kebangsawanan. Interaksi ini tumbuh meluas dalam upaya-upaya peningkatan keamanan, jaminan perlindungan dan pembangunan kesepakatan-kesepakatan di antara mereka. Secara alamiah, suatu tatanan lantas terbentuk, dan wilayah berlakunya tatanan ini dapat disebut sebagai negeri. 

"Order and location" menjadi rumusan dan urusan pangkal suatu unit sosial mulai dari skala keluarga, klan, suku, hingga bangsa. Masyarakat yang tidak bertanah dan tidak memiliki aturan sendiri adalah bangsa budak. Mereka dikalahkan, diperbudak, hartanya disita (dipajaki), hingga tidak memiliki apa-apa kecuali tenaga dan nafas yang melekat pada tubuhnya. Yang tersisa itu pun dikapitalisasi lagi menjadi apa yang dikenal sebagai penjual diri, pelacur, budak, buruh, karyawan, atau apapun yang rasanya lebih nyaman untuk disebut demi menutupi keadaan yang sebenarnya.

Orang-orang ini memerlukan pembebasan. Relasi eksploitatif (mengambil) antar-manusia harus diurai dan diubah menjadi relasi distributif (membagi). Dari saling menghinakan menjadi saling memuliakan. Sebuah perang atau kampanye militer yang dibangun untuk tujuan ini bisa dikenali sebagai misi pembebasan, atau sebuah agenda suci bagi kekuasaan yang bersifat "memberi". 

"Memberi" adalah sifat Tuhan. Penguasa yang mewakili Tuhan di atas bumi wajib memiliki sifat ini. Khalifatullah.

Adapun kekuasaan yang bersifat "meminta", mereka lahir dari para pengacau atau gerombolan perompak. Atau lahir dari sebuah kemiskinan material dan spritual, yang menyebabkan perang kekuasaan. Di tengah kekacauan itu, harga keamanan sosial menjadi sangat tinggi. Kemudian para perampok dan pengacau ini menawarkan keamanan dan keteraturan kepada masyarakat, yang dibayar dengan harga teramat mahal, berupa iuran sosial (pajak) untuk mengubah kebrutalan gerombolan itu menjadi pengawal negeri. Mereka selalu meminta peningkatan pajak, pungutan ini, pungutan itu. Negara model ini dibentuk atas dasar ketakutan. Seolah-olah perang akan sewaktu-waktu meletus apabila tanpa kepatuhan pada mereka (dan demikianlah keadaannya). Kadangkala anggaran keamanan bisa jauh lebih tinggi dari biaya perang itu sendiri. Agar tidak terlalu mengada-ada, maka mereka menyebutnya: perang dingin. 

Negara seperti ini lebih menghendaki kepatuhan, dan bukan kesadaran. Agar kekuasaannya bertahan, maka ketakutan harus dipelihara. Isu-isu terorisme, ancaman perang, wabah, krisis ekonomi, dan berbagai ancaman kekejaman adalah idiologi mereka. Untuk itu, fitnah, propaganda, penyebaran teror, dan pecah belah merupakan mantra kekuasaan agar ketakutan tetap terpelihara di hati masyarakat, yang berarti kebutuhan terhadap keamanan semakin meningkat. 

Di zaman ini, manusia hidup di alam bernegara yang samar-samar. Bila Anda ingin menguji tesis, di negeri jenis apakah kita hidup saat ini, maka ciri-ciri tadi barangkali dapat membawa Anda kepada sebuah kesimpulan, meskipun bisa jadi Anda sangat tidak menyukai kesimpulan itu.

Oleh: Tikwan Raya siregar

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.