Adakah Inflasi di zaman nabi?
Alloh telah menciptakan alam semesta beserta isinya sesuai dengan ukuran,untuk keberlangsungan hidup makhluk Nya.,agar dapat mencukupi kebutuhan hidup. Sehingga apa yang jadi tujuan diciptakannya manusia terwujud yaitu beribadah kepada Alloh. Ke-sialan hidup bisa karena kemaksiatan akan ajaran Alloh dan rosulnya.Dan apa yang diciptakan tidak ada yang berubah,misalnya ayam/telur diciptakan dari dulu sampai besok kiamat ya segitu,dan tidak ada yang berubah atas ciptaan Alloh. Artinya tidak akan ada ayam/telur tiba tiba berubah sebesar kambing ,atau sebesar telur Naga/Kalkun meski zaman berubah. Kecuali jika Alloh menghendaki.
Inflasi dalam pengertian ekonomi modern, inflasi didefenisikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan pada barang lainnya. Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai unit penghitungan moneter terhadap suatu komoditas. Sementara itu para ekonom modern mendefenisikannya sebagai kenaikan yang menyeluruh dari jumlah uang yang harus dibayarkan terhadap barang-barang/ komoditas. Kenaikan dari inflasi disebut deflasi, yaitu kecenderungan terjadinya penurunan harga umum dan terus menerus. Nama mata uang dengan nilai nominal berbeda beda menunjukkan adanya sebuah negara.
Menurut saya apa yang dikatakan inflasi menurut ekonom modern sebenarnya adalah depresiasi 'nilai' mata uang atau menurunnya / ketidakmampuan mata uang untuk menakar,mengukur harga barang /komoditas atau jasa.
Sebelum Rasulullah diutus manusia melakukan pertukaran barang dengan barter untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. perlu diketahui bahwa dinar dan dirham/emas dan perak faktanya bukan uang yang murni diciptakan oleh kalangan Islam, melainkan pengaruh dari bangsa Romawi dan Persia. Emas dan perak yang dijadikan sebagai uang sejati ini memiliki nilai intrinsik dan stabil.karena memang seharusnya uang itu sebagai penakar harga komoditas.
Baca :
- Kenapa kertas yang diyakini sebagai uang merosot daya belinya? Ini jawabnya
- "Uang" kertas (fiat money) Bid'ahkah?
Di zaman nabi belum pernah ada yang menyebut bahwa dinar emas dan dirham perak adalah mata uang,karena hakekat jual beli adalah pertukaran barang dengan barang/jasa dan tentunya memiliki nilai.atau lebih dikenal dengan sebutan Barter. Jadi ketika seekor kambing dijual dengan 4,25 gram emas atau ditukar dengan 10 kuintal beras atau gandum pada hakekatnya adalah menukar harta dengan harta lain sesuai dengan kebutuhan dengan syarat tanpa paksaan (ridho) ,setara (adil) dan kontan (tunai).
Ketika ditanya tentang alat tukar apa yang dipakai di zaman nabi, adalah muhammad shollolohu'alahi wasallam,jawaban yang terlintas di pikiran kita tidak lain adalah dinar dan dirham.yaitu emas dan perak.
Dan ini telah berjalan pertukaran emas dan perak dengan barang komoditas lain, semenjak zaman romawi kuno atau mesir kuno,meskipun dalam bentuk berbeda.tapi hakekat bahannya adalah berupa emas dan perak.
Dinar berasal dari bahasa Romawi yaitu denarius, sementara dirham berasal dari bahasa Persia yaitu drachma. Masuknya dinar dan dirham sebagai alat tukar ke jazirah Arab tidak terlepas dari ekspansi pedagang Syam yang di bawah pengaruh bangsa Romawi serta pedagang dari Yaman di bawah pengaruh bangsa Persia.
Rasulullah sendiri tidak menolak menggunakan dinar dan dirham sebagai alat transaksi ekonomi (alat tukar/barter) tetapi justru menerimanya. Ketika itu, Rasulullah shollolohu'alahi wasallam menetapkan dinar dan dirham sabagi alat tukar menukar barang yang sah dalam perniagaan dan membuat standar tiga jenis dirham yang beredar menjadi satu jenis dirham yakni dirham 14 qirat.
Baca :
Mengenai daya beli uang emas Dinar dapat kita lihat dari Hadits berikut :
Karena dinar dan dirham adalah uang yang berbahan dasar emas, nilai tukarnya sejak dahulu selalu tetap sehingga tidak pernah mengalami inflasi maupun deflasi. Misalnya harga satu ekor kambing ketika masa Rasulullah shollolohu'alahi wasallam di kisaran harga 1 dinar (4,25gr) atau setara Rp.3.867 juta itu artinya masih sama hingga saat ini.(jika per gram Rp.910.000).
Terdapat hadits yang sangat luar biasa, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah. Hadits di bawah dengan lafazh dari Imam Bukhari:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ حَدَّثَنَا هَارُونُ الْأَعْوَرُ الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا الزُّبَيْرُ بْنُ الْخِرِّيتِ عَنْ أَبِي لَبِيدٍ عَنْ عُرْوَةَ الْبَارِقِيِّ قَالَ
دَفَعَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دِينَارًا لِأَشْتَرِيَ لَهُ شَاةً فَاشْتَرَيْتُ لَهُ شَاتَيْنِ فَبِعْتُ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ وَجِئْتُ بِالشَّاةِ وَالدِّينَارِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ مَا كَانَ مِنْ أَمْرِهِ فَقَالَ لَهُ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي صَفْقَةِ يَمِينِكَ فَكَانَ يَخْرُجُ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى كُنَاسَةِ الْكُوفَةِ فَيَرْبَحُ الرِّبْحَ الْعَظِيمَ فَكَانَ مِنْ أَكْثَرِ أَهْلِ الْكُوفَةِ مَالًا
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا الزُّبَيْرُ بْنُ خِرِّيتٍ فَذَكَرَ نَحْوَهُ عَنْ أَبِي لَبِيدٍ قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَى هَذَا الْحَدِيثِ وَقَالُوا بِهِ وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَقَ وَلَمْ يَأْخُذْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِهَذَا الْحَدِيثِ مِنْهُمْ الشَّافِعِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ أَخُو حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ وَأَبُو لَبِيدٍ اسْمُهُ لِمَازَةُ بْنُ زَبَّارٍ
Telah bercerita kepada kami 'Ali bin Abdullah telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Syabib bin Gharfadah berkata, aku mendengar orang-orang dari qabilahku yang bercerita dari 'Urwah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberinya satu dinar untuk dibelikan seekor kambing, dengan uang itu ia beli dua ekor kambing, kemudian salah satunya dijual seharga satu dinar, lalu dia menemui beliau dengan membawa seekor kambing dan uang satu dinar. Maka beliau mendoa'akan dia keberkahan dalam jual belinya itu". Sungguh dia apabila berdagang debu sekalipun, pasti mendapatkan untung".
Sufyan berkata; "Adalah Al Hasan bin 'Umarah yang datang kepada kami dengan membawa hadits ini darinya (dari Syabib). Katanya (Al Hasan); " Syabib mendengar hadits ini dari 'Urwah, maka aku (Sufyan) menemui Syabib lantas dia berkata; "Aku tidak mendengarnya dari 'Urwah". Syabib berkata; "Aku mendengarnya dari orang-orang yang mengabarkan hadits darinya namun aku mendengar dia berkata, Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kebaikan senantiasa terikat dengan ubun-ubun kuda hingga hari qiyamat". Dia Syabib berkata; "Sungguh aku telah melihat di rumahnya ada tujuh puluh ekor kuda". Sufyan berkata; "Dia ('Urwah) membeli seekor kambing untuk beliau shallallahu 'alaihi wasallam sepertinya untuk keperluan hewan kurban".
Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa harga pasaran kambing yang wajar di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah satu Dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang sangat adil, tentu beliau tidak akan menyuruh ‘Urwah membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebihan. Fakta kedua adalah ketika ‘Urwah menjual salah satu kambing yang dibelinya, ia pun menjual dengan harga satu Dinar. Memang sebelumnya ‘Urwah berhasil membeli dua kambing dengan harga satu Dinar, ini karena kepandaian beliau berdagang sehingga ia dalam hadits tersebut didoakan secara khusus oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam . Diriwayat lain ada yang mengungkapkan harga kambing sampai 2 Dinar, hal ini mungkin-mungkin saja karena di pasar kambing manapun selalu ada kambing yang kecil, sedang dan besar. Nah kalau kita anggap harga kambing yang sedang adalah satu Dinar, yang kecil setengah Dinar dan yang besar dua Dinar pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka sekarangpun dengan ½ sampai 2 Dinar (jika1 Dinar dengan berat 4,25 gr) pada saat saya menulis artikel ini = Rp .3,867 juta ) kita bisa membeli kambing dimanapun di seluruh dunia – artinya setelah lebih dari 14 abad daya beli Dinar tetap. Coba bandingkan dengan Rupiah kita. Pada waktu SD misal (awal 70-an) bapak saya membelikan saya kambing untuk digembala sepulang sekolah, harga kambing saat itu berkisar Rp 8,000. Nah sekarang setelah 51 tahun apakah kita bisa membeli kambing yang terkecil sekalipunpun dengan Rp 8,000 ? tentu tidak. Bahkan ayam-pun tidak bisa dibeli dengan harga Rp 8,000 !.
Salah satu hal yang bisa ditarik kesimpulan dari hadits ini adalah harga kambing pada zaman Rasulullah adalah satu dinar (sekitar 4,25gram emas ) sekitar Rp 3,867 juta. Dan saat inipun harga kambing (jantan) sekitar Rp 3 jutaan juga. Demikianlah uang emas, nilainya stabil.
Dalam perjalanannya, dinar dan dirham saat di zaman Rasulullah diproses dari segi bobot dan kandungan emasnya oleh sahabat Arqam bin Abi Arqam yang memang ahli menempa emas dan perak ketika itu. Barulah pada masa Umar bin Khatab dinar dan dirham ditambahi lafal hamdalah dan Muhammadur Rasulullah sebagai identitas kuat umat Islam.
Seiring dengan meluasnya kekuasaan Islam, dinar dan dirham dari pemerintahan Islam ini semakin menyebar hingga ke wilayah bagdad /Irak, Iran, Mesir, Bahrain, dan Andalusia.
Dengan kekuatan dinar dan dirham yang tahan akan hantaman roda ekonomi (inflasi/deflasi), para ulama menjadikan dinar dan dirham sebagai tolok ukur dalam menentukan nisab zakat.
Misalnya Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm berkata, "Tidak ada perbedaan pendapat (ikhtilaf) bahwasannya dalam zakat emas itu adalah 20 mitsqal (dinar)."
Imam Hanafi juga mengatakan bahwa ukuran nisab zakat yang disepakati ulama, untuk emas adalah 20 mitsqal dan telah mencapai satu haul (satu tahun). Adapun untuk perak adalah 200 dirham.
Sementara itu Imam Ghazali berpandangan bahwa dengan diciptakannya dinar dan dirham (emas dan perak), maka tegaklah dunia.(keadilan) Keduanya adalah batu yang tiada manfaat dalam jenisnya, akan tetapi manusia sangat membutuhkan keduanya.
Adakah inflasi di zaman nabi ? Seperti yang kita alami dalam masa hidup kita saat ini.
Wallahu a'lam.
Referensi
-Wikipedia,inflasi
-Kitab hadits Imam Bukhari, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah.
-imam malik, al muwatta
-Imam asy syafi'i, al Umm
-Hilwatunnadriyah, Pengaruh Inflasi Terhadap Pergerakan Saham Syariah di JII Tahun 2012-2014. FEBI 17 mei 2016.
-Suparmono, Pengantar Ekonomika Makro, (Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan (UPP) AMP YKPN,), 128.
-Naf’an. Ekonomi Makro: Tinjauan Ekonomi Syariah (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2014), hal. 109-110

