Hyperinflasi dan masalahnya
Sistem mata uang fiat yang ditandai dengan peristiwa hyperinflasi maupun deflasi.hyperinflasi adalah suatu keadaan di mana inflasi kenaikan harga barang dan jasa sudah begitu tinggi dan tak terkendali,oleh sebab itulah disebut hyper- inflasi ,atau inflasi tingkat tinggi.Keadaan ini selalu ditandai dengan berlebihannya jumlah mata uang fiat yang beredar-mata uang yang hampir tidak memiliki nilai intrinsik sama sekali.Para ahli mendefinisikan inflasi dari sudut pandang kenaikan harga harga barang dan jasa. Berdasarkan tingkat keparahannya ,inflasi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori,yaitu:
- - inflasi ringan ,yaitu ketika kenaikan harga masih di bawah 10persen per tahun
- - inflasi sedang ,yaitu kenaikan 10-30 persen pertahun
- - inflasi berat, antara 30-100 persen pertahun,dan terakhir,
- - hiperinflasi,yaitu 100 persen ,atau naik dua kali lipat dalam kurun waktu setahun.
Secara lebih spesifik,Prof.Hanke menyatakan Bahwa ada dua kriteria yang harus dipenuhi sebulan sebuah episode inflasi dikatakan "hyperinflasi" . Pertama ,apabila inflasi bulanan sudah melebihi angka 50% selama 30 hari berturut turut. Kedua ,episode hiperinflasi dikatakan berakhir ketika angka inflasi kembali turun dibawah 50% per bulan,dan kembali disebut hiperinflasi jika angkanya naik di atas 50% lagi selama 30 hari berikutnya dalam setahun.
Sedangkan deflasi atau inflasi negatif adalah kebalikannya; ketika harga harga tiba tiba menyusut(murah) .ada untungnya memang,tetapi ternyata deflasi juga "pahit" .seperti yang terjadi pada rakyat Amerika kelaparan pada tahun 1933 .
Baca :
Masalahnya adalah..
Dalam berbagai literatur ,secara historis terdapat beberapa negara yang pernah mengalami hiperinflasi seperti venezuela ,honggaria,zimbabwe,yugoslavoa,republik srpska,republik weimar,yunani,dll.
Dari sekian banyak kejadian tersebut,kita akan menemukan berbagai pendapat tentang penyebabnya yang melatar-belakanginya: akibat kekalahan perang,situasi politik yang tidak menentu,salah urus negara,atau mis manajemen,jatuhnya harga minyak,melemahnya nilai mata uang fiat,dan masih banyak teori teori yang membenarkan sebab sebab terjadinya bencana finansial ini.
Namun bila kita telusuri sampai keakarnya ,hiperinflasi sebenarnya terjadi karena satu sebab: yaitu ketika jumlah pasokan "uang" kertas jauh melampaui benda yang Mendukungnya (awalnya di back up dengan emas dan perak) ,atau bahkan dicetak tanpa dukungan benda apa pun alias hanya dengan fiat pemerintah semata.
Dengan kata lain suatu negara ,ketika menerapkan sistem mata uang fiat,maka baik inflasi atau hiperinflasi hanyalah tinggal menunggu waktu atau " pematik" sejenis lainnya.
Baca :
Hiperinflasi tidak hanya terjadi pada sistem "uang kertas. Bila kita kembali ke sejarah uang .ternyata peradaban besar seperti Yunani,Romawi, dan Persia pernah dilanda bencana serupa. Penyebabnya pada dasarnya adalah sama ,yaitu ketika membludaknya jumlah pasokan "uang" yang tidak memiliki nilai intrinsik yang setimpal dengan nilai nominalnya.
Dalam kasus yang menimpa beberapa peradaban besar kuno ini kita kenal dengan istilah coinage debasement yaitu pencampura koin Emas dan perak (yang ketika itu merupakan mata uang utama) dengan logam kurang berharga lainnya,sehingga membuat kepercayaan masyarakat terhadap "uang" menjadi berkurang.
Pernyataan tentang akar penyebabnya hiperinflasi di atas pada akhirnya juga terbongkar "mitos" tentang harga.saat inflasi dan hiperinflasi,yang sebenarnya terjadi bukanlah soal seberapa tinggi harga harga naik,melainkan seberapa jatuh daya beli "uang" tersebut. Begitupun sebaliknya saat deflasi,yang terjadi adalah daya beli mata uang yang sedang naik drastis.
lihat :
Untuk memudahkan pemahaman ,kita akan memilih sudut pandang pada umumnya.
Hiperinflasi di era modern ketika semua negara sudah menerapkan "uang" kertas.Negara negara yang pernah mengalami pahitnya sistem mata uang fiat ini bukan hanya negara yang ekonominya lemah. Beberapa diantaranya bahkan adalah negara dengan ekonomi terbesar di dunia saat ini ,sebut saja kisahnya China dan Jerman.
Steve H.Hanke dan Nicholas Krus( 2012) telah mempelajari dan mencatat episode episode terpahit hiperinflasi yang menimpa beberapa negara ini.hasilnya mereka tuangkan dalam sebuah working paper yang berjudul World Hyperinflations yang diterbitkan oleh Cato institute pada tahun 2012.
