TAHUN BARU
MTahun baru Masehi, bagi bangsa-bangsa di Kepulauan Melayu dan Hindia, adalah hadiah dari penjajahan bangsa-bangsa Eropa. Sebelumnya sudah ada penanggalan di Tapanuli, penanggalan Saka di Jawa, penanggalan Hijriyyah di negeri-negeri Melayu, dan tentunya juga ratusan penanggalan lain di suku-suku Papua, Kalimantan, dan pulau-pulau dengan kehidupan otentiknya masing-masing.
Penanggalan pada awalnya lahir dari momentum. Dimulai dari suatu peristiwa penting dalam hidup seseorang, atau suatu kaum. Misalnya hari kelahiran seorang tokoh besar. Hari perkawinan seseorang. Hari perpindahan suatu kampung. Hari berdirinya suatu bangsa. Dan seterusnya. Jadi, penanggalan itu dinamis, dan mengikut pada momentumnya. Misalnya, bagi Muhammad sallallahu alayhi wa sallam dan para sahabatnya, momentum yang terpenting adalah saat hari pertama Rasulullah menginjakkan langkah perpindahannya di Madinah, yaitu ketika beliau mengatakan kepada orang-orang yang menyambutnya, "Berilah salam, dan bagikanlah makanan". Yang maknanya, kira-kira, tegakkanlah keselamatan kepada semua orang, dan bagikanlah kasih sayang di antara kamu. Pada hari kalimat itu diucapkan, kemudian ditetapkan sebagai 1 Hijriyyah.
Kita juga pasti akan menemukan suatu momentum penting pada Tahun Lunar China, tahun suku Inca, tahun Persia, Thailand, dan seterusnya.
Jadi, jelaslah bahwa momentum mengawali penanggalan. Adapun tanda-tanda di langit adalah pemandu perhitungan. Apa yang terjadi di atas bumi, kemudian dikonfirmasi atau disinari oleh sumber cahaya yang tetap di langit, agar tidak keliru. Agar segalanya tetap menurut hukumnya, karena segala sesuatu di langit bergerak sesuai orbitnya. Bumi dan langit, tanpa kita sadari adalah satu. Paling tidak, sudah dikabarkan pada kita, bahwa pada awalnya mereka memang satu. Keduanya saling berbicara, melalui perantara petunjuk dan bahasa, untuk menunjukkan sesungguhnya bumi dan langit itu teramat dekat, dan saling mengandung satu ke yang lain. Dia dipisahkan sementara, hanya agar kita mendapatkan pelajaran-pelajaran. Bagi yang beriman!
Penanggalan, dengan demikian, adalah perhitungan kehidupan seseorang, komunitas, kampung, suku, bangsa, dan pada akhirnya kesepakatan global menurut apa yang paling dominan dan penting dalam kehidupan mereka. Ketika tanggal jatuh tempo tagihan kredit ditetapkan oleh para bankir, tanggal gajian ditetapkan oleh majikan, tanggal liburan ditetapkan oleh industri, maka itulah yang diikuti dan dianggap paling penting. Itu adalah momentum-momentum terpenting bagi kebanyakan manusia pada hari ini. Menunggu tanggal gajian, menunggu hari liburan, semuanya ditetapkan dengan penanggalan Masehi, sehingga tahun Masehi menjadi teramat penting. Dan karena itu, 1 Januari disebut sebagai Tahun Baru. Dan 31 Desember sebagai tanggal "tutup buku".
Persaingan antar-almanak tidak lain adalah persaingan cara hidup. Almanak yang berkuasa dikendalikan oleh suatu bangsa yang berkuasa. Dan setiap bangsa yang berdaulat memiliki almanak untuk bangsanya sendiri menurut apa yang paling penting (core moments) bagi mereka.
Bangsa budak mengikuti penanggalan yang diberlakukan majikan padanya, agar ia tahu kapan saatnya ia diberikan makan, upah, atau liburan. Orang utan di Bukit Lawang juga punya waktu-waktu tertentu menurut kapan manusia akan memberikannya makan (feeding time). Mereka berkumpul pada saat itu untuk merayakan jam makan. Memang demikian momentumnya.
Saat ini, bangsa-bangsa terjajah mengadopsi penanggalan majikannya dengan melakukan modifikasi untuk menerima kekalahannya dengan membalik urutan antara "momentum ke penanggalan" menjadi "penanggalan ke momentum". Dimana tanggalnya ditetapkan lebih dahulu, momentumnya dikarang-karang kemudian. Maka lahirlah apa yang disebut dengan "Hari Bumi", "Hari Ibu", "Hari Buruh", "Hari Tani", "Hari Guru", "Hari Kesetiakawanan Sosial", dan hari-hari lain. Maka dapat kita saksikan, tidak ada satupun di antaranya yang membuat pengaruh. Tidak ada perubahan apa-apa. Tidak ada momentum di sana. Hari-hari itu tidak terhubung dengan kenyataan, tapi lebih terkait dengan angan-angan saja. Yaitu angan-angan kelas yang kalah, yang tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali melakukan ritual kekalahannya sendiri, yang tidak membawa makna.
Rasulullah sallallahu alayhi wa sallam dan para sahabatnya, sesungguhnya tidak mewariskan ummahnya suatu penanggalan Hijriyyah. Sunnahnya bukanlah mengikuti tanggal, tapi mengikuti momentum. Yaitu menciptakan suatu masyarakat Madinah di mana-mana. Setiap masyarakat akan menetapkan tanggal madinah-nya sendiri-sendiri, tergantung kapan momentum itu dimulai. Seandainya Rasulullah tidak melakukan tindakan penting, maka cukuplah baginya penanggalan Romawi atau Persia yang agung. Jadi, sunnahnya adalah membuat momentum baru, dan dengan demikian menetapkan penanggalan-penanggalan baru. Muhammad sallallahu alayhi wa sallam menetapkan momen hijrah. Maka itu yang kita ikuti. Tetapi bukan dengan membekukan sejarahnya. Justru yang terpenting adalah mengikuti momen hijrahnya melalui tindakan. Dan tindakan itu menciptakan tanggal. Penanda. Itulah sunnahnya. Maka hidupkanlah sejarahnya. Dalam dirimu. Dalam masyarakatmu. Sebab setiap diri adalah semesta yang lengkap dan sempurna. Seluruh peristiwa qur'ani terjadi di sana. Sebuah perjalanan besar berlangsung setiap saat di sana, melampaui peristiwa-peristiwa sejarah bohong yang dicatat para akademisi dan penguasa.
Inilah sejarah yang teramat jujur, dan tidak seorang pun dapat mengingkarinya, kecuali hanya untuk tujuan menzalimi diri sendiri. Inilah sejarah yang ditetapkan lebih dulu, data dan fakta mengikut kemudian.
Selamat Tahun Baru para kaum tertindas!
Sumber : https://www.facebook.com/725306419/posts/10159693119991420/