Apakah Redenominasi itu solusi ?
B
etapa pahitnya sistem mata uang kertas yang pernah menimpa Indonesia sanering dan krismon (krisis moneter).Mungkin kita pernah dengar yang namanya Redenominasi,pada dasarnya hanyalah penyederhanaan nominal mata uang dan tidak mengurangi daya belinya,terlepas dari faktor inflasi.
Secara konsep,redenominasi tidak akan merugikan rakyat. Mudah mudahan jika ini terjadi dalam prakteknya tidak merugikan rakyat.tetapi bercerai pada kisah si Macan dan si Gajah (sanering ) ,orang orang yang duluan "melek" tentu bisa memanfaatkan situasi. Di sinilah celah manipulasinya.
Lihat https://21centurytrade.blogspot.com/2021/05/memahami-keterpurukan-ekonomi-sanering.html
Bisa saja ,misalnya terjadi kerancuan nominal. Rp.1.000 lama telah berganti Rp.1 baru dengan daya beli yang sama,harga harga pun ikut turun 1/1000 bila ditakar dengan rupiah yang baru. Tetapi masyarakat awam masih sangat mungkin bisa tertipu disebabkan kerancuan daya beli antara "uang" baru dengan yang lama.
Potensi masalah ini harap dipahami sebagai pengingat dan wujud perhatian kami kepada pembaca dan pemerintah khususnya agar mampu menyikapi dengan bijak- dalam arti positif- jika seandainya nanti /suatu saat mengalami redemominasi terhadap rupiah.
Singkatnya,redenominasi sebenarnya bukanlah sebuah bencana jika negara mampu mengelola dan mengontrol pelaksanaannya dengan baik,namun juga tidak serta merta menjadi sebuah solusi atas krisis finansial yang melanda.Ia hanyalah penyederhanaan jumlah nominal mata uang dengan cara mencetak matanuang baru yang angka 0 (nol) - nya dihilangkan beberapa digit.
Jika kita melihat tabiat mata uang fiat dan berbagai contoh
Pahitnya keterpurukan finansial di beberapa negara ,mungkinkah ke depan terjadi lagi krisis finansial dahsyat sebagaimana hiperinflasi (dan juga deflasi) yang melanda berbagai negara ?
Jawabnya: sangat mungkin .bahkan para ahli berpendapat jika ke depan krisis finansial seperti hiperinflasi melanda dolar AS yang mana hal ini sangat mungkin terjadi,maka seluruh dunia akan terkena imbasnya.
Bagaimana tidak,sebabnya saat ini sejak murni berakhirnya standar emas secara sepihak oleh Amerika Serikat nyaris semua mata uang fiat di dunia ini disandarkan hanya kepada Dolar AS. Wajar saja bila suatu saat dolar kolaps, maka seluruh tatanan keuangan dunia akan ambruk secara berjamaah.
Baca:
James G. Rickards,penulis The Road to Ruin : The Global Elites' secretplan for the Next Financial Crisis (terbit2016) ,berani memprediksi kehancuran dolar AS yang diikuti oleh krisis finansial skala global dalam waktu gang tidak lama.
Inilah kelemahan mata uang fiat.sekaligus bukti bahwa nilai nominal yang dibubuhkan di atas selembar kertas mungil tersebut hanya mungkin berlaku karena paksaan "fiat" semata. Lain halnya bila anda memiliki uang sejati emas dan perak. Dalam situasi apa pun dan bagaimana pun keduanya telah terbukti dengan sangat tidak terbantahkan,mampu bertahan melewati waktu dan peradaban . Nilainya pun cenderung stabil sepanjang masa.
Bahwa selama benda yang kita sebut "uang" adalah sesuatu yang berharga hanya karena paksaan "fiat" ,maka selama itu pula ia akan terkena inflasi,bahkan menunggu " giliran" hiperinflasi,atau kadang dalam kondisi tertentu mengalami deflasi.
Dampak yang paling jelas adalah: siapa pun yang memegang "uang" kertas atau mata uang fiat dalam bentuk apa pun,pasti terkena imbas dari inflasi dan inflasi adalah "pajak" yang terselubung.