News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

CHINA DILLEMMA

CHINA DILLEMMA

China punya uang banyak. Mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 2.000 triliun dollar sebagai devisa nasional. Sebagai hasil dari produksi ekonomi yang tinggi. Yang membuat pertumbuhan negeri komunis itu mengubah tatanan ekonomi global.

China bekerja sebagai komunis, dengan kekuatan PKC yang tunggal dan mutlak. Tapi pada hakikatnya mereka memegang uang yang asalnya dari bankir yang mengeluarkan dollar di Amerika. Dan mereka menjalankan model ekonomi pertumbuhan yang mensyaratkan dua pilihan: tumbuh atau mati!

Dalam ekonomi pertumbuhan yang timbul karena dampak kredit dan bunga, maka tiap unit usaha harus menanggung beban di luar kegiatan riil ekonomi mereka, yaitu inflasi, bunga cicilan, dan pajak. Oleh sebab itu, mereka tidak bisa berjalan biasa saja. Harus berlari. Kalau ketinggalan, maka mati!

Bisa Anda bayangkan, uang sebesar 2.000 triliun dolar mau ditaruh dimana? Siapa yang akan mau menanggung bunga depositonya? 

Rupanya selama ini, China menaruh uang dolarnya di bank-bank Amerika. Tapi masalahnya, sejak Trump berkuasa, dia membuat kebijakan menolak penempatan uang China di negaranya, karena Trump tidak mau negara yang dipimpinnya terus-terusan menanggung beban deposito uang China itu. Apalagi, mereka juga sedang dalam kesulitan besar karena ekonomi riilnya dihantam habis oleh hiper-produktivitas China.

Lucu bukan? Uang yang dicari-cari itu kemudian saling tolak? Tak ada yang mau pegang? Nah, inilah yang disebut dengan "uang panas". Di manapun ia diletakkan, dia menciptakan beban dan masalah. Inilah ciri ekonomi kapitalisme, atau ekonomi pertumbuhan, yang menimbulkan kegilaan dan ketidak-masuk-akalan. Karena apa? RIBA. Sebab riba adalah pelanggaran terhadap akal sehat. Gila.

Nah, karena uang itu dilempar ke China, maka China pun harus punya cara agar uangnya sendiri tidak membunuh ekonomi negaranya. Apalagi, pertumbuhan mereka juga sudah selesai. Persoalan di dalam negeri sudah ruwet karena pelemahan ekonomi, masuk pula uang panas yang jadi beban besar. Bisa-bisa bangkrut negeri itu. Atau politiknya kacau.

Karena itu, pilihan China hanya satu. Uang itu harus dibelanjakan. Harus diinvestasikan. Tapi caranya harus pelan dan bertahap. Sebab kalau dibelanjakan tiba-tiba, dollar bisa seketika jatuh di seluruh dunia. Nah, China yang memegang banyak cadangan dollar akan terkena dampaknya juga. Jadi, dia tersandera oleh uang Amerika yang dipegangnya.

Pelan-pelan China mulai mengakumulasi emas. Belanjanya terukur. Tapi belanja emas cuma bisa mengurangi sedikit sekali dolarnya. Maka, harus ada cara lain. Nah, investasi ke negara-negara yang masih berkembang ekonominya. Inilah yang kemudian kita kenal dengan mega-proyek OBOR (One Belt One Road).

Investasi China dialirkan ke berbagai negara. Lewat pinjaman dan investasi. Setiap negara yang menerima pinjaman dan investasi ini, sebenarnya sedang ikut memanggul sebagian beban ekonomi China yang tambun dan penuh lemak jahat. Atau menyediakan pundaknya untuk dipijak, agar China tidak tenggelam. 

Di Indonesia, kita merasakan eksesnya. China, bagaimanapun juga, harus mengambil jatah roti di negeri ini. Untuk menempatkan uangnya. Indonesia punya banyak brankas hidup berupa sumber daya alam dan politik yang dapat dikelola menurut keperluan mereka. Mumpung lagi banyak pengkhianat.

Maka, janganlah terpesona dengan pertumbuhan yang tinggi. Juga uang yang banyak. Bila itu cuma ilusi, maka hasilnya adalah penipuan dan beban. Sebagaimana pesan Atok, tinggalkan riba!

Sumber : fb Tikwan Raya Siregar 

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10159650718191420&id=725306419


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.