News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

MENGAPA HARGA-HARGA SELALU NAIK?

MENGAPA HARGA-HARGA SELALU NAIK?

J
Oleh : Rengky Yasepta (penulis buku KERTAS ATAU EMAS?) 

ika Anda kelahiran tahun 80 akhir atau 90 awal mungkin pernah jajan mie instan seharga Rp.150 (baca: SERATUS LIMA PULUH RUPIAH) per-bungkus. Betul?

Sekarang di tahun 2021 berapa harga mie instan yang paling murah? Mari kita ambil harga Rp. 1.500 (SERIBU LIMA RATUS RUPIAH) per-bungkusnya, yang paling murah lho. Artinya sudah naik 10 kali lipat.

Pertanyaannya, apakah kualitas mie instan tersebut semakin bagus (rasanya, bumbunya, porsinya) atau ketersediaannya semakin menipis sehingga harganya NAIK 10 kali lipat? Jawabannya, TIDAK. 

Sayang sekali ini bukan karena hukum ekonomi dasar yang berlaku pada barang "mie instan," bahwa semakin banyak permintaan terhadap mie instan (sehingga ketersediaan berkurang), maka harga akan semakin naik. Tidak. Ini bukan sama sekali karena hukum kelangkaan.

Lalu apa penyebab harganya naik sepuluh kali lipat sementara kualitas barangnya sama saja (atau bahkan lebih buruk)? Jawabannya adalah INFLASI.

Inflasi terjadi akibat pencetakan mata uang kertas yang semakin hari semakin banyak sehingga hukum kelangkaan tadi justru berlaku sendiri terhadap DAYA BELI mata uang kita. Semakin banyak ketersediaan (mata uang), maka nilainya akan semakin TURUN. 

Dalam contoh di atas telah terjadi inflasi harga yang ditandai dengan kenaikan dari semula Rp.150 menjadi Rp.1.500 (sepuluh kali lipat) dalam rentang waktu sekitar 20-30 tahunan. Ini juga berlaku terhadap semua barang dan biaya hidup JIKA DAN HANYA JIKA DIUKUR DENGAN UANG KERTAS.

KENAPA BISA BEGITU? Karena uang kertas yang dicetak tidak lagi diback up oleh benda berharga, dan andai pun pernah diback up emas (secara teori), seperti sebelum tahun 1971, masalah tetap akan timbul selama yang menjadi mata uang bukanlah aset riil, yaitu EMAS secara fisik, seperti pernah berlaku di zaman keemasan Islam ketika menggunakan koin Dinar dan Dirham.

Emang sehebat apa emas sih? Seperti saya uraikan di buku KERTAS ATAU EMAS? (cek di sini 👉 bit.ly/info-bukuemas), nilai dari EMAS adalah cenderung tetap alias stabil dan ini telah terbukti setidaknya sekitar 1400 tahun yang lalu (bahkan bisa jadi lebih). Hal ini pernah terdokumentasi dalam narasi hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau menyuruh sahabatnya yang bernama Urwah untuk membeli seekor kambing seharga 1 dinar. 

Kini 1 dinar bernilai sekitar Rp. 4jutaan (saat tulisan ini dibuat), dan uang senilai itu masih lebih dari cukup untuk membeli seekor kambing. Terbukti bahwa sejak dulu dinar (baca: emas) memiliki nilai yang stabil. 

Jadi EMAS itu memiliki sifat ZERO INFLATION, sedangkan uang kertas PASTI SELALU KENA INFLASI. Yakin. Ini sudah sunatullah. 

Wallahu a'lam bishawab. 


 

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.