Utang negara itu adalah kita
N
egara berhak mencetak mata uang. Di Indonesia, namanya rupiah. Tapi ketika pemerintah kekurangan uang, yang dilakukannya adalah mengutang. Namanya Surat Berharga Negara (SBN).Sungguh amat sulit dimengerti, bahwa pemerintah membuat negara berutang pada mata uang yang diciptakan negara itu sendiri. Seumpama, kita disuruh membeli tempe yang kita buat sendiri.
Kemudian teori moneter klasik menjelaskan, peredaran mata uang harus diatur. Jumlahnya tidak boleh dipengaruhi unsur politik. Pencetakannya tidak boleh menyebabkan inflasi. Maka atas dasar itu, dibentuklah sebuah lembaga independen bernama bank sentral. Di Indonesia namanya Bank Indonesia (BI). Bank ini tidak boleh diatur oleh pemerintah atau presiden. Ia berjalan menurut sistem dan hitungannya sendiri. Bila pemerintah memerlukan supply uang, maka ia harus mengutang. Dengan kata lain, pemerintah sebagai lembaga politik tak boleh campur tangan soal pencetakan uang negara, tapi sebagai lembaga politik pula, ia boleh membuat utang negara.
Antara pemerintah dan BI ini terjadi hubungan yang complicated. Meskipun sama-sama lembaga negara, tapi pemerintah seolah-olah hanya berupa nasabah BI. Ada sejumlah uang yang dipinjamkan, dan pengembaliannya disertai bunga. Tentu bukan hanya BI, kue SBN juga dinikmati pihak-pihak lain yang ingin menempatkan uangnya secara aman dan menguntungkan. Seperti kawanan hyena, mereka mencabik-cabik tubuh APBN dengan taring modalnya masing-masing melalui SBN. Kita tinggal mendengar setiap hari bahwa utang negara sudah menembus sekian ribu triliun, dan terus bertambah.
Utang negara itu adalah kita. Semua kita dibebankan menanggungnya melalui mekanisme penarikan pajak dan pengurangan nilai tukar mata uang. Kita semua merdeka dan dilumuri utang, sehingga upah buruh dan pendapatan petani selalu terasa makin berkurang. Nilai tukar produk dan jasa kita makin rendah (meskipun angka nominalnya terdengar selalu bertambah).Lalu, makhluk apakah negara dan bank sentral ini? Dari pikiran siapa keduanya lahir? Mengapa mereka kompak dan sinergis menguasai mata uang dan utang? Bila mereka satu unit, mengapa ada di antara mereka yang jadi pengutang, dan ada yang menjadi pencipta uang?
Mengapa negara membuat publik berutang, dan mengapa bank sentral membuat uang? Saya sudah mencoba memeras-meras logika untuk memahami hubungan keduanya. Akhirnya saya merasa bodoh karena tak bisa juga menemukan urgensinya.
Oleh: Ompu Sonduk Tikwan Raya Siregar