Ga usah nunggu dilikuidasi Tiongkok maka tinggal cermati tanda-tandanya, itu bisa langsung terlihat setelah selesai terbangun.. apa saja ?

1. Underused and over-capacity. Artinya perencanaan tidak matang. Kebutuhan tidak sesuai dengan kapasitas terbangun. Ada yang sengaja (atau tidak) salah hitung hingga tertipu membangun bukan di tempat yang membutuhkan, atau membangun yang tidak dibutuhkan.

2. Require extensive subsidy to operate. Ini juga akarnya salah hitung. Harusnya bisa membiayai dirinya sendiri, ternyata tidak. Ujungnya harus subsidi. Entah sampai berapa (puluh) tahun.

3. High tariff and cost. Harusnya pembangunan menurunkan biaya ekonomi, ini malah memper-mahal biaya ekonomi. Tarif mengejutkan yang muncul setelah proyek selesai adalah pertanda jelas proyek terseut sebenarnya terlalu mahal.

4. Not reflected as growth. Nah, ini juga pertanda yang cukup jelas, bahwa proyek tersebut tidak berkontribusi pada manyarakat banyak dan hanya menguntungkan segmen masyarakat yang sebenarnya tidak perlu dibantu pertumbuhannya.

5. Increase in tax. Nah ketika hasil tidak sebanding usaha, lalu siapa yang harus bayar? rakyat lagi. Lewat apa? lewat pajak. Ada yang merasakan ekstensifnya pajak akhir2 ini? silahkan berbagi di kolom komentar.

Apa penyebabnya ? sebenarnya bukan semata semata disebabkan Negara pengutang semata, tapi juga peran besar kroni dalam negeri .

Untuk apa ? ada sekian motivasi yang berpotensi untuk menyebabkan negara dalam kondisi demikian.

1. Modal kampanye politik. Banyak rakyat di banyak Negara berkembang yang masih berpikir primodial : pembangunan infrastruktur adalah prestasi pemerintah, padahal yang dipakai uang pajak rakyat juga.

Siklus 5 tahunan membuat proyek-proyek kebut semalam amat populer. Ngga’ masalah kalau nanti ambruk setelah 5 tahun lewat sehari, yang penting bisa gunting pita sebelum pemilu.

2. Termakan hasutan broker-broker proyek. Namanya proyek pemerintah pasti tidak simsalabim muncul, opini harus dikembangkan sedemikian rupa di berbagai tingkatan supaya pemerintah merasa harus cepat-cepat bangun karena alasan yang dicari cari

Ini pola umum yang dilakukan lembaga yang menawarkan kredit. Membangun narasi yang “meyakinkan” amatlah penting supaya “penugasan” kepada BUMN terlaksana.

3. Kepentingan balas budi. Semua juga tau berapa harga sebuah kekuasaan politik. Tidak sedikit modal yang diperlukan untuk mendudukan seseorang di jabatan politik tertentu. Tentu sumbangan-sumbangan itu tidak datang secara cuma-cuma.

Untuk itulah diperlukan mekanisme jitu bagaimana agar setiap stakeholder, memperoleh manfaat dari naiknya seseorang ke pucuk kekuasaan. Kursi menteri, direktur BUMN, komisaris, hingga kontak-kontrak strategis adalah bagian dari mekanisme tersebut.

Bisa jadi dengan itu kesetiaan mereka tidak mengendur dan siap kembali bertempur membela yang bayar.

Jadi harus bagaimana? ya terserah rakyat di masing masing negara saja..

Pertanyaan yang dilakukan tim Bloomberg cukup menarik sebagai rambu untuk menunjukan jalan agar tidak terjebak pada utang Cina dan skema BRI, Maritim Silk Road dan Digital Silk Road Tiongkok selanjutnya

1. Apakah Proyek ini akan menjunjung kedaulatan nasional?
2. Apakah kita bisa mempertahankan transparansi?
3. Apakah kita bisa memastikan keberlanjutan finansial?
4. Apakah penduduk setempat tetap terlibat?
5. Apakah dengan berpartisipasi dalam BRI,MSI dan DSI, negara tetap aman secara geopolitik?
6. Apakah kita mampu melindungi lingkungan?
7.Apakah kita bisa mencegah korupsi terkait dengan investasi ini?

Bagaimana dengan Indonesia ? Ah males ngomongnya… bikin rusak suasana hati aja….🤔

Sekian.

Sumber bacaan :

https://www.bloomberg.com/…/the-seven-risks-to-check-before… dan sumber lain.

sumber foto : magzter.com

FB Adi Ketu